MAKASSAR – Perhimpunan Sekolah-sekolah Teologi di Indonesia (PERSETIA) sukses menggelar Rapat Umum Anggota (RUA) XVI tahun 2026 di Makassar. Mengambil tempat di Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Indonesia Timur (INTIM) Makassar sebagai tuan rumah, agenda besar ini menjadi momen penting transisi kepemimpinan dan perumusan arah strategis pendidikan tinggi teologi di Indonesia.
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari RUA XV tahun 2022 yang berlangsung di STT GKS. Pada RUA XVI ini, pengurus demisioner mempertanggungjawabkan hasil kerja mereka selama empat tahun terakhir kepada sekolah-sekolah anggota, dilanjutkan dengan evaluasi dan proyeksi program kerja ke depan.
Ketua STFT INTIM Makassar, dalam sambutan pembukaannya, menyoroti urgensi tema RUA tahun ini, yakni "Masa Kini dan Masa Depan Pendidikan Tinggi Teologi di Era Kecerdasan Buatan." Tema ini dinilai sangat relevan dan mengajak seluruh elemen pendidikan teologi untuk membaca tanda-tanda zaman dengan iman yang dewasa, pikiran kritis, serta keberanian berinovasi.
"Kecerdasan buatan telah mengubah cara manusia belajar, mengajar, meneliti, menulis, berkomunikasi, dan mengambil keputusan. Perubahan ini membuka banyak peluang bagi pendidikan tinggi teologi, seperti memperluas akses sumber pengetahuan dan mempertemukan komunitas akademik melampaui batas geografis," ungkap Ketua STFT INTIM.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa pendidikan teologi dipanggil bukan sekadar untuk mengikuti perubahan zaman, melainkan untuk memberikan orientasi spiritual dan moral. Lembaga teologi harus terus menyuarakan peran profetisnya agar kemajuan teknologi senantiasa melayani kemanusiaan, keadilan, perdamaian, keutuhan ciptaan, dan kebaikan bersama.
STFT INTIM bersyukur dapat memfasilitasi pertemuan ini sebagai ruang strategis untuk mengevaluasi perjalanan bersama, menyusun arah kebijakan, serta memperkuat jejaring. Harapannya, RUA XVI ini menghasilkan langkah konkret terkait pengembangan kurikulum, pedoman etika penggunaan kecerdasan buatan, penguatan budaya penelitian, serta tata kelola lembaga yang adaptif.
"Berbagai perbedaan pengalaman, konteks gerejawi, tradisi teologis, maupun kapasitas kelembagaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan untuk saling belajar. Masa depan pendidikan tinggi teologi tidak dapat dibangun sendiri-sendiri; kita memerlukan kolaborasi lintas lembaga dan kesediaan berbagi sumber daya," tambahnya.
Puncak dari pelaksanaan RUA XVI PERSETIA ini adalah pemilihan dan penetapan personalia kepengurusan yang baru. Estafet kepemimpinan kini resmi diserahkan untuk menjawab tantangan pendidikan teologi empat tahun ke depan.
Berikut adalah susunan Pengurus PERSETIA Masa Bakti 2026-2030 yang baru saja ditetapkan:
-
Ketua: Pdt. Prof. Izak Y.M. Lattu, Ph.D.
-
Wakil Ketua I: Pdt. Handi Hadiwitanto, Ph.D.
-
Wakil Ketua II: Pdt. Dr. Omnesimus Kambodji, M.Th.
-
Sekretaris: Rahel Sermon Harapani Daulay, Ph.D.
-
Wakil Sekretaris: Pdt. Dr. Fibry Jati Nugroho, S.Th., M.Si.
-
Bendahara: Dr. Suryaningsi Mila, M.Si.
-
Wakil Bendahara: Pdt. Dr. Diana Binkor Jenbise, M.Th.
-
Anggota I: Dr. Ricardo Freedom Nanuru, M.Phil.
-
Anggota II: Letsma Putri Racheliani
Selamat bertugas kepada Pengurus Baru PERSETIA Masa Bakti 2026-2030. Kiranya Tuhan senantiasa memampukan kepengurusan ini dalam menavigasi pendidikan tinggi teologi yang lebih inovatif, berintegritas, dan kolaboratif di era kecerdasan buatan.
